Duhai Tegar Mendekatlah
Karya : Sandra Tresnayadi
Kelas : IX-H
Senja
awal November,Rima baru berhenti dari aktivitasnya . Saat ia baru sampai di
rumahnya,ibunda Rima memberi kabar yang meluluh lantahkan persendiannya “Rim, Ibu
baru saja mendapat kabar bahwa Ayah sedang sakit” ujar sang ibu “Ayah ? Ayah
sakit Bu ? tanya Rima dengan nada kaget “iya Rim ,kita harus cepat-cepat
menemui Ayah” ajak ibu . Mereka pun bergegas pergi untuk menemui ayahnya.
Di
perjalanan malam yang pekat,ditemani titik air yang bergerombol,ditambah pula
dengan suara petir yang saling bercakap satu dengan yang lain . Rima merasa
resah,gelisah dalam hati yang terkoyah mengingat keadaan ayahnya . “Bu Rima
takut terjadi apa-apa sama Ayah” ujar Rima “huss kamu ga boleh kaya gitu. Kita harus
optimis kalau keadaan Ayah akan baik-baik saja” jawab ibu yang sedang berusaha
untuk menenangkan anaknya itu .
Setelah
melewati perjalanan yang cukup panjang dan menegangkan Rima pun sampai di Rumah
Sakit di mana ayahnya dirawat . Mereka disambut oleh isak tangis keluarganya .
“ Paman, bagaimana keadaan Ayah ?” tanya Rima dengan penuh kekhawatiran “Rima
kamu akan mendapatkan jawabannya di dalam” . Setelah sampai di pintu kamar
ruang ICU Rima tersentak saat melihat ayahnya yang dulu kekar sekarang malah
terbaring lemah tak berdaya dengan lilitan kabel di tubuhnya . Lantunan ayat
Al-Qur’an menemani tidur sang ayah . ayahnya terlihat tenang dengan mata
terpejam,senyuman keteduhan masih memancar penuh kedamaian . “Buu ... Ayaaaah Bu
“ lirih Rima dengan air mata di pipinya “kamuu sabar yaa sayang . Kita harus
yakin Ayah pasti akan sembuh “ jawab sang ibu menenangkan sambil mengusap air
mata Rima .
Alunan
halus suara adzan membahana , Rima dan keluarganya pun segera memenuhi
panggilan Allah untuk menunaikan sholat isya . Dalam doa nya terdengar suara
lirih anak gadis itu “ Ya Allah hamba tau Engkau Maha Adil . Hamba juga tau
Engkau takkan memberikan cobaan di luar batas ciptaaan-Mu ini maka dari itu
kokohkan lah hati hamba dalam menjalani semua ini . Berikanlah yang terbaik
untuk hamba dan keluarga hamba . Amin “ sambil menadah pada setangkup do’a
kerinduan ,rindu yang terarah bersama air mata.Keheningan jiwa yang tersimpuh
di atas sajadah di hadapan Tuhan-Nya .
Saat
ia hendak memasuki ruang ICU ia melihat seorang dokter sedang berbicara kepada
salah satu keluarganya . “ Pa maafkan kami ! kami sudah berusaha semaksimal
untuk menyelamatkan nyawa Pak Beno . Namun Allah berkehendak lain “ ucap lirih sang dokter . Saat mendengar
untaian kata demi kata yang di ucapkan sang dokter Rima merasakan goncangan
yang amat dahsyat di tubuhnya,hatinya serasa tercabik oleh pedang takdir Sang
Penguasa “ Ayaaaaaaaaaah “ teriak Rima
sekencang-kencangnya sambil berlari menemui
ayahnya “Ayaahh bangun Ayaah ! Rima sayang sama Ayaah , Rima ga mau kehilangan
Ayah “ ucap Rima penuh kesedihan “ Rima kamu yang sabar ! “ ujar sang paman “ Paman
! bilang sama Rima kalo ini cuma mimpi Paman ! Ayah ga mungkin ninggalin Rima “
pinta Rima sambil menangis “ Maafkan paman Rima . tapi semua ini bukan mimpi “
jawab sang paman sambil ikut meneteskan air mata . Suara tangis Rima memecah
keheningan malam . Rima merasa dunia ini berhenti berputar saat ia mendapati
kenyataan bahwa ayahnya telah tiada .
Di
pojok kamar ruang ICU tampak terlihat Rio yaitu kakak Rima yang sangat merasa
terpukul. Rio tak bisa berucap,mulutnya seakan-akan terkunci oleh pahit
getirnya rasa kehilangan . Ia hanya bisa meneteskan bulir-bulir kekecewaan .
Sosok ayah bagi mereka memang sangat berarti di mana ayah mereka ini adalah
pribadi yang menyenangkan mudah bergaul dan sangat khas dengan celotehannya .
Ayah mereka ini bak pemberi gradasi pada lukisan yang polos .
Beberapa
saat kemudian datang Anis yang merupakan sepupu Rima mengajaknya pulang . Di
perjalanan Rima hanya berdiam diri , tak sepatah katapun keluar dari mulut
manisnya itu “Rim ,kamu baik-baik aja kan ?” tanya Anis . Namun Rima tidak
menjawab pertanyaan sepupunya itu . Kenyataan telah membuat Rima jatuh ke dalam
jurang kesedihan .
Keesokan
harinya ditemani hangatnya sang surya dan suara burung camar yang menggoda
terdengar panggi lirih sang ibu “Rim....bangun sayang !” tak lama kemudian Rima
pun bangun “ ohh ... iyaaa Buu “ jawabnya lemas “cepat mandi sayang kita kan
mau ke pemakaman Ayah “ suruh sang ibu kepada anaknya gadisnya itu “iya .. baiklah
Bu “ . Elok pagi tak lagi dirasakannya Rima seolah-olah berada di antara takdir
yang makin ganas menggilasnya.
Saat
Rima sedang berjalan menuju ruang tengah,dilihatnya jenazah berbalut kain putih
yang sedang di sholati.Air matanya pun kembali mengucur deras .Tiba-tiba ada
sosok wanita yang mendekatinya “Nak kamu yang sabar ya !” ucap wanita itu yang
ternyata adalah tetangga yang sedang melayad . Rima hanya membalasnya dengan
senyum “kamu pasti kuat menjalani semua ini . percayalah di balik semua
peristiwa pasti terdapat hikmah di dalamnya “ ucap pelayad yang lain . Namun
motivasi itu tak berhasil membuatnya bangkit.
Dentingan
waktu terus bergulir , bola kuning mulai merajalela di mayapada , dan itu
waktunya Rima mengantar ayahnya ke pangkuan Ilahi . Rima berjalan dengan
langkah tertatih yang kian merapuh . Jiwanya serupa salju sekalipun mentari
terik berada di atas kepalanya . Rima seakan mati rasa dalam menjalani hidup.
Saat liang lahat seolah-olah memakan
jenazah sang ayah , Ibu menghampiri Rima dan mencoba untuk menguatkan hati Rima
“ kuatkan hatimu sayang ..mudahkanlah perjalanan Ayah “ ucap lirih sang ibu “tapi
Bu ... kenapa Allah secepat ini mengambil Ayah ? Kenapa Allah tak mengizinkan
Rima barang sedetik saja mengucapkan kata-kata terakhir untuk Ayah ? Kenapa Bu
?” tangis Rima kepada ibunya “ ini sudah takdir Rima ! kau jangan pernah
menyalahkan takdir , terimalah semuanya dengan ikhlas” jawab sang ibu . Ibu
Rima memang sosok wanita yang tegar dan kuat dengan semua kenyataan pahit
hidupnya . tak terasa jenazah sang ayah telah tertimbun tumpukkan tanah dan
para pelayad mulai meninggalkan pemakaman . Dan yang tersisa hanyalah Rima,Rio
dan Ibunya,mereka merasa sulit untuk meninggalkan orang yang sangat mereka
sayangi itu .Namun mereka sadar kehidupan harus terus berjalan , akhirnya
mereka pun meninggalkan pemakaman dengan goresan luka kepedihan .
Senja
berwarnakan jingga mulai datang, saat mentari redup tenggelam di peraduan ,
Rima terlihat sedang berdiam diri sambil menatap cakrawala . Terlihat pula Rio
mulai mendekati adikya itu “ lagi ngapain De?” tanya Rio “lagi liatin langit!
Kali aja ada Ayah disana “ jawab Rima “ De kamu salah ! Ayah itu bukan ada di
langit tapi Ayah itu ada disini di hati kita “ ucap Rio “ Iya sih Ka , tapi
terkadang saat Rima sedang menatap
indahnya langit Rima seperti melihat bayangan Ayah “ jawab Rima “ oh..mungkin
itu hanya imajinasimu saja de ! kaka ngerti meninggalnya ayah mungkin membuatmu
merasa bahwa Allah itu ga adil , tapi kita harus melihat ke depan. Kita masih
punya ibu yang wajib kita bahagiakan “ .Mendengar kata-kata kakak nya itu hati
Rima merasa tergerak , Rima merasa tak percaya sosok yang ada di sampinya itu
adalah kakak nya . Karena sebelum ayahnya meninggal Rio adalah anak yang bisa
dibilang nakal dan kurang memperdulikan keluarganya “iya Kaka bener aku harus kuat demi keluarga dan demi masa
depanku “ Jawab Rima .
Rima
dan Rio akan mencoba untuk tetap tegar dalam kecup halilintar , walaupun surya
hanguskan pori-pori dan sabit mengiris begitu tajam,tegar akan selalu merangkul
mereka. Akhirnya mereka pun memulai hari
baru dengan kobaran api yang menyala-nyala . Senyuman indah sang pelangi mulai
mewarnai , meskipun tak dapat dipungkiri sosok sang ayah masih selalu terbayang
di benak mereka . Namun sekarang mereka kuat , mereka hanya membutuhkan asupan
kasih sayang yang tulus untuk bisa bertahan hidup .